PROLOG
SEINGATKU aku pernah berada disini. Mungkin memang pernah, tapi aku benar-benar lupa akan tempat ini. Tapi aku yakin aku pernah berada di tempat sunyi ini.
Hanya ada danau luas yang tenang dihiasi banyak lampu obor indah yang sepertinya memang sengaja dibuat. Di sisi danau itu terdapat perahu kecil yang kosong.
Aku berjalan di tepi danau dan akhirnya menemukan gubuk yang sangat sederhana. Aku duduk di kursi panjang yang terletak di teras gubuk yang dingin. Dan, tiba-tiba saja pintu gubuk yang terbuat dari anyaman bambu tua itu berdecit, seseorang membuka pintu yang rapuh itu.
Aku menoleh pada sosok tinggi itu. Tercengang melihat siapa sosok itu. Seorang pria. Tepatnya remaja yang usianya 20-an. Tubuhnya agak bungkuk, membuat lelaki yang tingginya sekitar 185 cm itu terlihat agak pendek. Kulitnya putih, rambutnya pendek dan terlihat sedikit berantakan. Ia sangat tampan mengenakan kemeja putih yang dipadukan dengan celana bahan. Ia tersenyum padaku.
Aku ingat siapa dia.
Aku pernah melihatnya, meski hanya dalam sosok lukisan bisu yang terpajang di ruang kerja almarhum kakek.
Dan tiba-tiba saja semuanya lenyap.
Mimpi. Hanya mimpi.
SATU
Aku terbangun dengan tubuh berkeringat. Dan berusaha meyakinkan diriku bahwa itu semua benar-benar mimpi. Tapi, siapa lelaki itu? Dimana letak danau yang tenang itu? Aku melihat jam hitam yang tergantung di dinding kamarku. Pukul 05.00.
Untuk menenangkan perasaanku, aku langsung berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu dan sholat subuh.
Usai sholat subuh, aku berjalan keluar kamar. Merasa haus, aku berjalan menuju dapur yang letaknya di lantai satu. Suasana rumah masih sepi, hanya terdengar suara mesin penyedot debu yang sedang berbunyi nyaring dibawah kendali Mbak Endah.
Aku mengambil air mineral yang ada di meja makan dan meneguknya perlahan. Aku memandangi foto keluarga besarku yang terpajang di ruang keluarga yang jaraknya tak jauh dari ruang makan.
Di depan mereka, ada Kak Bayu yang duduk di kursi disebelahku. Aku yang pada saat itu malam mengenakan pakaian resmi berwarna hitam itu. Lalu ada Nanda, dan Anjani anak dari Om Gilang dan istrinya yang tentu saja sepupuku. Dan, disana tidak ada sosok lelaki tampan tadi. Tapi, mengapa lukisannya ada di ruang kerja kakek??
Aku setengah berlari menuju kamarku saat ponselku berteriak menyanyikan lagu Falling Away With You yang dinyanyikan oleh Muse. Ternyata, Anjani sepupuku tersayang menelepon.
“Kenapa, Njan? Tumben pagi-pagi nelepon.” Sapaku lembut.
“Kak, kayaknya benar dugaan gue tentang pacarnya Kak Nanda.” Ujarnya menggebu.
“Benar kalau…?”
Belum juga aku menyelesaikan kalimat, Anjani langsung memotongnya. “Iya! Pacarnya yang namanya Tod itu gay! Kakak
“Yaa..
“Bebas.” Terangnya tak sabar, “Membolehkan hubungan antara sesama jenis! Kakak pernah gue certain tentang temen twitter gue
“Oh, jadi karena Tod itu dari
“Iya, kak!!!” Jawabnya semangat.
“Well?” Tanyaku masih dengan nada sabar.
“Kemarin gue ketemu dia lagi nge-band sama homoannya.”
Aku masih diam, menunggu kelanjutan ceritanya.
“Dan sehabis nge-band, mereka balik bareng. Naik motor Tod. Pegangan gitu, kak! Meeeeesssrrraaaa banget. Temen gue saja juga nyangkanya diia gay.”
“Itu
Sepertinya Anjani tidak menyukai jawabanku karena dia hanya diam.
“Kalau lo sudah nemu bukti yang lebih oke, gue bantu.” Ujarku agak bersemangat.
Anjani kedengarannya senang, “Makasih, kak. Gue mau siap-siap berangkat dulu ya. Love You, sista.”
Usai menutup telepon itu, aku bergegas untuk bersiap-siap menuju sekolah. Memakai seragam putih abu-abu, menyemprotkan parfum bayi yang aku suka, memakai bedak tipis, dan tak lupa menyisir rambutku yang panjangnya hanya sebahu.
Enam kursi di ruang makan pagi itu terisi tiga orang. Ayah, di kursi utama. Bunda, di sebelahnya, Kak Bayu di hadapannya. Satu kursi yang terletak di sebelah Kak Bayu adalah kursiku, dan dua kursi kosong lain adalah kursi almarhum kakek, dan kursi eyang putri yang kini menetap di
“Morning, baby.” Sapa bunda dengan senyum cantiknya, lalu mengecup pipiku.
“Kamu selalu jadi yang terakhir ke meja.” Ujar ayah sambil tersenyum dan juga mencium pipiku.
“Pagi, Kak.” Sapaku pada Kak Bayu yang sedang membaca majalah game favoritnya.
Lalu, ayah memimpin doa dan kami semua menikmati masakan Mbak Endah yang sangat lezat.
“Gimana sekolah kamu, De?” Tanya bunda.
“Biasalah, bun. Beberapa guru aku ada yang diganti, soalnya mereka ngajar untuk pemantapan materi kakak kelas. Tapi, digantinya cuma beberapa hari saja.” Jawabku santai.
“Sistem kayak gitu nggak ngeganggu?
“Sama sekali enggak kok, mungkin karena setiap tahun memang kayak gitu sistemnya. Guru-guru professional
“Kalau kamu gimana, Kak?” Tanya mama pada Kak Bayu yang melahap sarapannya dengan semangat.
“Well, kuliahku lancar-lancar saja. Tapi, ada sedikit masalah bunda, tentang sahabat-sahabat aku.” Jawabnya datar.
Aku menoleh kearah Kak Bayu yang tatapannya kosong. Sedih. Dan aku baru menyadari kalau Kak Bayu memang tampan. Pantas saja sahabatku yang bernama Tanya sangat menyukainya. Sayangnya, Kak Bayu yang kini sudah menjalani semester dua di kuliahnya itu sudah punya pacar. Namanya Kak Rias.
“Kenapa sama teman kamu? Yang ada masalah itu Rendy, Bagas, atau Bimo?” Tanya bunda.
“Rendy sama Gagas, bunda. Jadi pacarnya Rendy yang sekarang itu ternyata cinta pertamanya Gagas yang dia cari sampai sekarang. Akhirnya mereka berantem gitu.” Jawabnya datar, menegaskan garis-garis marah pada wajahnya yang putih.
***
Seperti biasa, aku berangkat sekolah diantar Kak Bayu dengan mobil hitamnya. Ekspresinya masih datar. Hanya menatap serius jalanan pagi yang ramai.
“Kak, lo punya masalah lain ya selain masalah Kak Rendy sama Kak Gagas itu?” Tanyaku memulai pembicaraan.
“Enggak.” Jawabnya singkat.
Aku, yang semula duduk tegak langsung menyandarkan tubuhku di jok mobil yang ku duduki. Aku kesal dengan jawaban Kak Bayu yang singkat, dan terkesan galak. Ia jarang sekali bersikap seperti itu padaku.
Bisa kurasakan Kak Bayu menoleh ke arahku, tapi aku tetap saja diam sambil memerhatikan jalanan yang ramai dan berdebu itu.
“Oke, gue kalah. Gue bakal cerita sama lo tentang masalah gue.” Ujarnya sambil menoleh ke arahku.
Aku menoleh ke arahnya, dan kini aku melihat garis-garis marah dalam wajahnya sedikit memudar. Aku menunggunya untuk bercerita.
“Gue sudah putus sama Rias.”
Aku terkesiap kaget. Setahuku, Kak Rias adalah perempuan yang baik. Kak Bayu sangat menyayanginya. Tak jarang Kak Rias diajak makan malam oleh ayah dan bunda.
“Kok bisa?” Suaraku terdengar rendah.
“Rias… Rias nggak sebaik yang lo kira, de.” Jawabnya.
“Maksudnya?” Suaraku terdengar bingung.
“Well, dia itu cewek yang suka keluyuran ke pub kalau malam. Suka nongkrong di balapan legal di Bandung setiap akhir bulan, bahkan dia itu perokok.”
Kak Bayu menjawabnya tanpa menoleh ke arahku, dan aku tidak berani untuk melihat wajahnya yang tampak sedih itu. Ia sangat tidak menyukai cewek ‘malam’, cewek perokok, apalagi cewek yang sering keluyuran ke luar
Aku mengusap bahu kakakku, “Sabar, kak. Lo bisa dapat yang lebih baik.”
Ia tersenyum padaku, senyuman sayang pada adiknya. Lalu, mengusap-usap rambutku yang pendek sebelum akhirnya kami tiba di sekolahku. Langkahku terhenti saat Kak Bayu menurunkan kaca mobilnya dan berbicara padaku.
“Makasih, de sudah mau dengar cerita gue. Oh iya, nanti lo pulang sendiri ya!”
“Oke boss!”
Tepat disaat aku datang, Tanya juga turun dari mobilnya. Seperti biasa, anak terkaya di sekolah itu diantar supirnya.
“Anggress!!” Teriaknya sambil berlari, “Anggressia!!!” Teriaknya lagi.
Aku menoleh, dan tersenyum padanya. “Apa? Semangat banget lo.”
“Kakak lo.” Jawabnya dengan napas terengah-engah.
“Kenapa sama Kak Bayu?” Tanyaku bingung.
“Cakep.”
Aku mencubit lengannya, “Kak Bayu melulu yang ada di otak lo. Ayo ke kelas.” Ajakku.
Kami berdua berjalan sambil tertawa-tawa menuju kelas yang berada di lantai dua. Tanya adalah sahabat baikku. Meski ia dikenal sebagai siswa terkaya di sekolah, tapi ia tidak sombong. Terkadang ia memang sombong, tapi hanya kepada orang-orang yang membedakan status.
Tanya tinggal di
Tanya dan aku sama-sama penyuka basket, tak jarang kami menonton IBL(Indonesian Basket League) di Gading. Dari situlah kami bersahabat, dan Tanya sering belajar di rumahku kalau sedang bosan di rumahnya.
Kami memasuki kelas XI IPA 1 yang pagi itu masih sepi. Aku dan Tanya duduk di kursi paling depan.
“Anggres, kemarin gue ngirim foto kita yang lagi di kamar lo ke sepupu gue yang ada di Singapura. Dia suka sama lo!” Ucapnya bersemangat.
“Tanya sayang, gue nggak mau punya pacar yang masih saudaraan sama elo. Nanti gue jadi ipar lo. Males gue punya ipar manja kayak lo.” Candaku.
Tanya menarik-narik lengan bajuku, “Serius, Nggress. Orangnya cakeeeep banget.”
“Cakep itu relatif, sayang.”
Tanya merasa kalah. Lalu, ia mengeluarkan biskuit yang ia bawa dan memakannya sambil membaca novel yang belum diselesaikannya. Mataku berputar menelusuri kursi-kursi yang kebanyakan masih kosong.
Mataku berhenti pada kursi yang ada di pojok kelas.
Dia murid baru.
Bel masukpun terdengar nyaring. Kini, kursi-kursi yang tadinya kosong sudah terisi penuh oleh wajah-wajah siswa yang tak asing, kecuali wajah lelaki yang ada di kursi tadi. Pelajaran pertama adalah Bahasa Inggris. Bu Inggrid adalah guru Bahasa Inggris yang juga merangkap sebagai wali kelas kami.
“Okay student, we have a new friend in our class.” Ucapnya setelah berdoa memulai pelajaran.
Cowok yang tadi tidur, melangkahkan kakinya dan berjalan menuju muka kelas. Tingginya sekitar 180cm. Rambutnya pendek, dan terlihat sedikit acak-acakan seperti yang tadi kubilang. Garis mukanya lembut, lesung di pipinya membuatnya terlihat manis. Tapi, bentuk mukanya yang persegi membuatnya terlihat sedikit galak. Ia memakai kaca mata, dan penampilannya rapi.
“In English?” Tanyanya pada Bu Inggrid yang berdiri di sampinya.
“Yes,” Jawabnya sambil tersenyum ramah.
“Well, my name is Anangga Prasetya Tressia. I come from one senior high school in
“Kenapa pindah kesini?” Tanya Bu Inggrid, kali ini dengan Bahasa Indonesia.
“Orang tua Saya harus pindah ke
Perkenalan singkat itu membuat banyak siswi dikelasku jadi tertarik padanya. Saat istirahat pertama tiba, kulihat ia masih sendiri. Belum mengobrol dengan yang lainnya.
Seperti biasa, aku dan Tanya menghabiskan istirahat di kursi di depan kelas. Kami berdua embawa bekal ke sekolah, kecuali hari Jum’at dan Sabtu karena dua hari itu adalah hari bebas kami untuk menikmati makanan kantin yang menuru bunda kurang mengandung vitamin.
Saat kami sedang asyik menikmati bekal, kulihat Anangga keluar kelas dan duduk di kursi kusong lainnya. Ia mengamati para siswa yang sedang bermain basket di lapangan dengan serius.
Tanya yang cerewet dan manja tidak betah untuk tidak menyapa Anangga yang tampan itu. Tanya mencondongkan tubuhnya, melewati tubuhku agar bisa melihat Anangga dengan jelas.
“Anangga,” Panggil Tanya ramah.
Anangga menoleh, tersenyum tipis dan kembali menikmati pertandingan.
Tanya merasa kalah. Ia meletakkan tempat bekalnya di kursi dan berjalan pelan menghampiri Anangga. Ia berdiri tepat di depan Anangga, dan mengulurkan tangannya.
“Gue Tanya,” Ucap Tanya memperkenalkan diri.
Anangga tidak membalas uluran tangan itu, “Sudah tahu
Tanya cemberut, merasa benar-benar kalah kali ini. Ia meninggalkan Anangga yang tidak merasa bersalah sedikitpun lalu mengambil tempat makannya, dan melanjutkan makannya di dalam kelas.
Otomatis, akupun menyusul Tanya yang makan sambil cemberut.
“Aneh.” Ujarnya kesal.
“Ketus.” Tambahku.
***
Jam 14.00 bel tanda pulang berbunyi nyaring. Tanya berpamitan, karena supirnya sudah menunggu. Jadi, terpaksa aku pulang sendirian.
Sejak kelas dua, aku duduk dan bersahabat dengan Tanya. Hal itu membuat sebagian orang enggan berteman denganku. Mungkin karena mereka tahu aku dekat dengan Tanya dan mereka merasa tidak cocok kelau mengobrol dengan Tanya yang kaya raya itu. Alasan kedua, mereka menyangka aku pilih-pilih dalam urusan berteman.
Tapi keadaan mulai berubah di semester ini. Mereka mulai mengenaliku dan memahami sikapku. Aku mulai mempunyai banyak teman. Ditambah aku adalah anggota basket sekolah, sedangkan Tanya bukan. Hal itu membuat teman-teman basket-ku merasa lebih leluasa untuk mengobrol denganku.
Aku berjalan menuju halte busway bersama
Busway ke arah Utara tiba,
Busway ke arah Selatan akhirnya datang. Aku menaiki busway itu. Seketika kursi-kursi yang tadinya kosong penuh terisi siwa dari sekolahku. Aku sedikit linglung saat berdiri. Tiba-tiba seorang cowok berseragam sama denganku berdiri dan mempersilahkanku untuk duduk di kursinya.
“Makasih,” Ujarku rendah.
Aku menoleh ke arah cowok itu karena ia tidak menjawab. Ternyata, dia adalah Anangga.
Aku bingung harus mengobrol apa, karena bisa jadi aku hanya bicara sementara ia diam seperti pada waktu istirahat tadi. Aku memutuskan untuk ber-internet lewat ponselku untuk mengisi kekosongan waktu yang akan berlangsung lama ini.
Aku mengeluarkan ponsel merah itu dari dalam tas, dan seketika Anangga memegang tanganku.
“Masukin hp lo.” Ujarnya ketus.
“Hah? Kenapa?” Tanyaku bingung, tapi aku menuruti perintahnya untuk memasukkan ponsel kembali.
“Pemberhentian berikutnya, Halte Gelanggang Remaja. Perhatikan barang-barang Anda, dan berhati-hatilah melangkah.”
“Ayo turun.” Kata Anangga.
Aku bingung, karena ini bukan halte tujuanku.
Melihat kebingunganku, Anangga menarik tanganku dan kami keluar dari busway yang penuh itu.
“Ini bukan halte tujuan gue!” Aku marah.
“Heh! Masih untung gue selametin. Asal lo tahu, bapak-bapak yang berdiri dekat pintu tadi itu ngeliatin lo mulu. Dia kayaknya pengen ngambil hp lo. Makannya tadi gue kasih lo kursi. Jangan GR ya gue kasih kursi!!!” Bentaknya.
Beberapa siswa dari sekolah lain yang sedang menunggu di halte itu memandang kami. Merasa terganggu dengan volume suara Anangga yang kelewat keras.
“Dasar curigaan.” Aku berjalan menjauhi Anangga, kemudian aku menoleh lagi, “Satu lagi. Suara lo bikin orang-orang disini keganggu. Berisik!”
Aku berjalan menuju pintu yang satu lagi. Berdiam sambil menunggu busway tanpa melirik ke arah Anangga sedikitpun. Busway datang, dan aku naik. Anangga juga naik, tapi ia berada di bagian belakang. Sementara aku, di bagian depan busway.
Aku sampai di halte tujuanku dan tidak menoleh ke arah busway yang pergi. Aku berjalan sendirian, sampai akhirnya menemukan ojek untuk mengantarku ke rumah.
***
Sudah jam 16.00 dan kamar di sebelahku masih kosong. Menandakan Kak Bayu belum juga pulang. Ayah dan bunda sepertinya sedang menikmati berita sore di ruang keluarga. Aku berjalan menuju balkon kamarku dan duduk di kursi sambil menikmati matahari yang warnanya mulai kemerahan.
Aku memikirkan kejadian tadi siang saat di busway. Aku merasa salah karena belum mengucapkan terima kasih. Kalau bapak-bapak tadi benar-benar ingin mencuri ponselku, pasti sekarang aku sedang menangis dan menelepon Kak Bayu untuk mencarikan solusi.
Anangga Prasetya Tressia, nama itu terngiang dalam pikiranku. Sepertinya aku pernah mengenal keluarga Tressia. Tapi entah dimana. Mungkin hanya teman di facebook atau twitterku.
Malam tiba. Aku sibuk berkencan dengan tugas matematika yang menumpuk. Aku mengerjakan tugas sambil mendengarkan MP3 dari MP3 playerku. Tiba-tiba lagu
Aku menatap layar ponselku dan melihat nama Tanya disana. Tanya meneleponku.
“Hallo.. Tanya?” Sapaku ramah.
“Nggres. Gue lagi di
Aku menghela napas, “Oke. Kita baru mulai semester dua dan elo sudah izin ketiga kalinya.”
***
Dengan malas aku berjalan menyusuri lorong yang sepi pagi itu. Membawa
“Woy! Bengong aja lo!” Dimas memukul bahuku.
“Bete gue, si Tanya nggak masuk. Sendirian deh,” Jawabku malas.
“Bagus, lah. Lo jadi nggak dijauhin sama anak-anak. Gue saja canggung kalau ada Tanya. Padahal
“Dia lagi sibuk sama kuliahnya. Ngomongin soal canggung, kok gue biasa saja ya dekat sama Tanya?” Ujarku.
Dimas menaruh tangannya di bahuku lagi, “Well, elo
Aku memukul perutnya dengan siku sambil tersenyum, “Tajir? Supel? Biasa saja.”
“Gimana nggak tajir? Yang punya Perusahaan Margakarya yang oke itu
Aku memukul tangan Dimas yang sedari tadi bertengger di bahuku, “Dimas! Elo emang sahabat gue, tapi lo tahu
Dimas menaruh tangannya di bahuku lagi, “Kalau orang pintar kayak Tanya yang orangtuanya tukang bisnis pasti tahu kalau elo tajir, kelihatan dari nama belakang lo.”
Dimas berjalan menduluiku dan menghampiri Dino, dan Fajar yang asyik membicarakan pertandingan sepak bola tadi malam. Sementara itu, aku masih kaget mendengar ucapan Dimas barusan.
Aku masuk ke kelas dan mendapati Dimas yang masih asyik dengan obrolan sepak bolanya.
Ersha, cewek paling cantik plus paling oke masalah pacaran, menghampiri kursi Anangga. Dan, aku nggak perlu menguping untuk mendengar apa yang dibicarakan Ersha karena suara cemprengnya itu nyaris terdengar oleh seisi kelas.
“Tumben jam segini Tanya belum datang.” Kata Resi yang duduk di belakangku.
“
“Kamu, lebih suka sekolah disini atau di tempat yang dulu?” Tanya Ersha genit pada Anangga.
Aku malas mendengar pembicaraan memuakkan itu, dan aku memutuskan untuk membantu Resi menulis di agenda kelas.
“Sama aja.” Jawab Anangga ketus.
“Kamu sudah ngerjain PR?” Tanya Ersha lagi, nggak puas.
“Belum. Gue belum dapat buku dari koperasi.”
“Nyontek punya gue saja. Tadi malam tugas gue sudah diperiksa sama guru privat gue, hasilnya benar semua loh.” Tambahnya.
“Sorry, gue bukan tukang nyontek.”
Usai berkata seperti itu, Anangga berjalan dari tempat duduknya sambil membawa tas dan duduk di kursi Tanya yang kosong.
Refleks aku melihat Ersha yang mukanya terlihat sangat marah dan mukanya berwarna merah padam. Lalu, aku kembali sibuk mendata siswa yang masuk dan tidak masuk.
“Cewek busway, siapa nama lo?” Tanya Anangga kasar.
Aku menoleh kesal ke arahnya. “Anggressia Fajrina.”
“Enaknya apa ya gue manggilnya? Fajri, PR hari ini apa?” Tanyanya dengan nada ketus.
Aku mengeluarkan buku paket matematika dan membuka halaman 18, “Nih. Satu lagi, panggil gue Anggres.”
Aku selesai membantu Resi, dan melihat Anangga yang serius dengan PRnya.
“Tahu darimana Tanya nggak masuk?”
“Tadi
“Sini gue ajarin. Mana yang nggak bisa?”
***
Istirahat tiba, dan aku memakan bekal yang dibuatkan bunda. Berhubung nggak ada Tanya yang biasanya menemaniku makan di depan kelas, aku terpaksa makan sendiri di dalam kelas.
“Heh! Elo berani banget deketin inceran gue!!!” Teriak Ersha, didampingi sahabatnya Dina dan Indah.
“Hah? Inceran lo? Siapa?” Tanyaku bingung.
“Dasar. Cantik-cantik tapi lemot, Anangga maksudnya!!!” Sambar Indah yang berdiri di sisi kanan Ersha.
“Gue nggak deketin. Dia sendiri yang pindah ke kursi Tanya.” Jawabku berani.
“Halaaah… Sok cantik banget sih lo!!!” Teriak Ersha.
Dimas yang baru masuk kelas setelah puas memakan bakso di kantin menghampiri kursi ku yang dikerubungi tiga cewek cantik itu.
“Ersha, lo kenapa sih? Teriak-teriak. Suara lo tuh cempreng tahu nggak?!”
Aku berdiri dan menarik lengan baju Dimas, mengajaknya keluar kelas.
“Kenapa sih dia?” Tanya Dimas saat kami duduk di kursi depan kelas.
“Gue dikira mau ngerebut Anangga.” Jawabku datar.
“Penting banget sih tuh cewek!”
“Dimas..” Panggilku dengan suara rendah, Dimas menoleh. “Thank’s.”
“Elo kayak sama siapa saja sih, masih kaku saja!” Senyum khasnya keluar, dan seperti biasa, ia menaruh lengannya di bahuku untuk kesekian kalinya.
Saat pelajaran dimulai, aku mendapati Ersha yang pindah ke kursi Resi untuk lebih dekat dengan Anangga. Tapi hasilnya nihil. Anangga sama sekali tidak menggubrisnya.
***
Pelajaran terakhir adalah Bahasa Indonesia yang menghabiskan waktu hingga sepuluh menit setelah bel pulang berbunyi. Setelah bel berbunyi, aku langsung membereskan buku-buku yang berserakan dimeja.
“Besok gue disini lagi.” Kata Anangga datar, bukan untuk bertanya tapi untuk memastikan.
Aku hanya mengangguk, mengiyakan ungkapannya barusan. Sementara itu, sepertinya Ersha marah lagi dibelakangku.
Aku berjalan sendirian melewati lorong yang mulai sepi karena bel sudah berbunyi dari tadi.
Suara Ersha membahana, mengajak Anangga untuk pulang bersamanya, tapi Anangga selalu menjawab dengan singkat. Aku mempercepat langkah, pusing mendengar suara Ersha dan dua temannya yang jaraknya hanya beberapa langkah dibelakangku.
Kak Bayu sepertinya sudah lama menunggu. Ia duduk di kap mobil sedannya sambil memainkan ponselnya. Tersenyum tanpa menunjukkan sikap bosannya saat melihatku.
“Bayu! Bayu, Din!!!” Teriak Indah saat melihat Kak Bayu.
Dan seketika Ersha melarikan diri dari Anangga dan tiga cewek cantik itu berjalan menuju mobil mereka yang terparkir tak jauh dari mobil kakakku.
“Gue lama, ya?” Tanyaku pada Kak Bayu yang kali ini berdiri di depan mobilnya.
“Bahasa Indonesia lagi?” Tanyanya sambil tersenyum.
“Lagi.” Jawabku dengan muka cemberut.
Kak Bayu tertawa melihat ekspresiku, mengelus kepalaku dan akhirnya membukakan pintu penumpang untukku.
Saat masuk kedalam mobil, kulihat tiga cewek cantik tadi yang juga masuk kedalam mobil. Bisa kutebak, mereka akan mengikuti kami seperti yang dulu pernah mereka lakukan.
***
Sabtu pagi aku terbangun dengan teriakan yang teredam oleh bantalku. Kak Bayu yang kamarnya terletak di sebelah kamarku berlari menghampiriku yang masih terengah-engah ketakutan.
“Kenapa?” Tanyanya cemas.
Aku menegakkan posisi dudukku, “Gue mimpi buruk. Gue selalu mimpi tentang cowok yang ada di ruang kerja kakek! Kali ini gue mimpi dia kecelakaan. Tragis.”
Kak Bayu yang melihat ekspresi ketakutan yang terpancar dari wajahku memelukku penuh kasih sayang. Ia adalah kakak terbaikku.
“Sudah, cuma mimpi de!” Ia melepas pelukannya, “Teman gue ulang tahun. Lo jadi pasangan gue, ya. Gue bingung bawa siapa. Lo tahu
“Oke. Ulang tahunnya dimana? Gue
“Di pub. Tapi tenang saja, pub-nya sudah save kok. Legal. Sudah ada izin buat nyewa juga.” Terangnya.
“Pakai baju apa, ya?”
“Yang formal, dress. Tapi jangan dress yang kayak lo pakai kalo kita nemenin ayah bunda ke acara-acara. Kebagusan.”
“Oke, boss!!”
***
Hari Sabtu adalah hari yang menyenangkan karena sekolah libur. Siang hari, aku memutuskan untuk jalan-jalan ke mal bersama bunda. Bunda sibuk mencari kebutuhan keluarga untuk satu minggu kedepan bersama Mbak Endah.
Aku memutuskan untuk memisahkan diri dan berjalan sendirian mencari-cari dress yang akan kukenakan nanti malam.
“Eh, ada Anggres. Mau nyari apa?” Tanya Mbak Regina, pemilik outlet langgananku.
“Nanti malam aku ada acara, mbak. Dress simpel. Buat acara ulang tahun.” Jelasku pada perempuan cantik itu.
“Acaranya diadain dimana?” Tanyanya lagi.
“Pub.”
Mendengar jawabanku, Mbak Regina menaikkan alisnya.
“Teman kakak aku yang ulang tahun, namanya juga anak kuliahan.” Ujarku menjawab kerutan bingung di matanya.
Mbak Regina dengan cepat mengambil dress yang dipajang di sudut outlet. Dress berlengan panjang, dengan panjang hanya selutut. Dengan pita besar di bagian belakangnya. Terlihat sangat elegan. Lalu ia mengambil aksesoris, kalung berwarna putih. Sangat indah.
“Tasnya pakai yang minggu lalu kamu beli saja,” Ujarnya.
Aku mencoba dress itu, dan benar pilihan Mbak Regina. Dress itu membuatku terlihat lebih putih dan terkesan tinggi.
Setelah membayar dress itu, aku berjalan menuju tempat ice cream favoritku dan menghabiskan waktu disana sambil menunggu telepon bunda agar aku segera kembali ke mobil.
***
Jam 18.30, usai sholat magrib aku langsung bersiap dengan dress hitamku. Aku membiarkan rambut sebahuku tergerai setelah aku blow sedikit. Dan aku memakai bandana yang berwarna putih. Dan tak lupa memakai sneakers merah kesayanganku.
Bunda sering memarahiku bila aku memakai sneakers padahal gaun yang kukenakan bernuansa cewek. Tapi, itulah kebiasaanku. Justru itu yang membuat aku terlihat bahwa aku tidak sepenuhnya feminin seperti yang terlihat dari luar.
Setelah memakai parfum bayi kesayanganku, aku menyambar tas kecil berwarna hitam yang ada di ranjangku dan keluar kamar.
Aku berjalan santai menuruni tangga dan kulihat ayah, bunda, dan Kak Bayu sedang mengbrol di ruang keluarga.
“Anak bunda cantik banget.” Puji bunda saat aku bergabung.
“Ayah baru nyadar kalau kamu sudah besar.” Tambah ayah.
Aku bersandar di bahu ayah, “Iiiih… Ayah sama bunda bikin aku malu saja. Kak Bayu juga oke.” Jawabku malu.
Benar saja, Kak Bayu terlihat tampan. Seandainya Tanya melihatnya, mungkin Tanya akan histeris. Kak Bayu mengenakan celana bahan dan kemeja, tanpa jas. Agar terkesan ringan, dan ia juga mengenakan sneakers.
“Ayah, bunda, kita berangkat dulu ya!” Kata Kak Bayu akhirnya.
“Hati-hati. Jaga adikmu,” Pesan bunda saat aku dan Kak Bayu berjalan menuju mobil.
“Nggak diantar, mas?” Tanya Pak Karya, supir keluargaku.
“Enggak, pak. Saya saja yang menyetir.” Jawab Kak Bayu sopan.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar